Wednesday, October 8, 2008

Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (6)

BAGAIMANA DENGAN KITA?

Gereja sebagai umat Allah yang sejati, murid Kristus, dan ciptaan baru, secara ontologis sudah merupakan politik. Jika Kristus menyebut kita sebagai antisipator, atau prolepsis, dari Kerajaan Allah, maka sebenarnya kehadiran Gereja menggentarkan kuasa politik! Namun, bagaimana kenyataannya? 

Kita berpolitik, tetapi kebanyakan memperjuangkan kepentingan sendiri. Gereja telah menjadi sangat reaktif bila kepentingannya terganggu. Gereja berkumpul dan menyatakan protes kepada pemerintah ketika ada gereja yang dibakar. Gereja diam saja ketika ketidakadilan menimpa orang lain yang bukan Kristen!  

Masih segar dalam ingatan saya tentang apa yang dilakukan oleh sebuah organisasi persekutuan gereja di Indonesia, ketika Mbak Tutut, sang putri penguasa Orde Baru, yang mengampu Menteri Sosial, mengumumkan agar rakyat menyumbangkan emas di tengah krisis moneter Indonesia, maka Ketumnya yang njawani itu pun tergopoh-gopoh sowan kepada Mbak Tutut; bahkan melakukan imbauan di stasiun televisi.

Tak kurang memalukan pula kiprah gereja, ketika belum lama berselang, seorang pemimpin gereja di ibu kota yang mendeklarasikan diri sebagai Kristen Fundamental(is), meraih dua doktor di bidang pendidikan agama dan teologi dari Amerika Serikat, mendukung pencalonan seorang calon presiden wanita, yang pernah menjabat sebagai presiden, dengan tujuan supaya sang ibu memberikan keadilan kepada orang Kristen dan terutama golongan non-pribumi.

Banyak orang-orang muda Kristen, dan khususnya dari warga keturunan, yang mempunyai cita-cita tinggi, brilian, dan mempunyai cukup dana untuk menempuh studi di luar negeri kemudian enggan balik ke Indonesia. Mengapa? Tidak ada tempat, kurang fasilitas, tidak impas dengan tenaga, usaha dan dana yang dikeluarkan. Betapa kita perlu bercermin dengan arif dan merenung dengan malu, orang yang sangat terbukti cinta negeri yang porak poranda adalah Kwik Kian Gie, yang adalah seorang Buddhis.

Perjuangan Kekristenan—termasuk yang Injili, dan kata “injili” di Indonesia kian menyempit menjadi kelompok gereja Kristen dari latar belakang warga keturunan!—masih sangat parsial, fragmentaris, dan primordialis! Saya yakin hal ini bukan mempermuliakan Kristus yang tersalib dan yang bangkit sebagai buah sulung ciptaan baru, tetapi mempermalukan-Nya. Orang Kristen masih dicetak oleh pola dan patron dunia.

Mungkin inilah sebabnya, orang Kristen cenderung anti untuk menghayati Kristus sebagai seorang tokoh yang berpolitik, dan lebih nyaman untuk mengatakan bahwa Ia hanya memperjuangkan keselamatan dan kehidupan kekal bagi kaum-Nya, sebab sesungguhnya orang Kristen enggan untuk menanggung konsekuensi sebagai orang-orang yang mengikut Dia. Jika Kristus adalah tokoh politik, mau tidak mau, gereja harus berpolitik, sebab gereja sebagai pengikut-Nya adalah sebuah entitas politis: politik shalom, politik Kerajaan Allah, politik konfrontatif dengan kebijakan pemerintah, politik NO! kepada kuasa dunia. Pertanyaan untuk gereja adalah: Siapa yang kita ikuti, dan siapa yang lebih kita takuti? Hanya ada dua pilihan: Kristus atau Kaisar!

TERPUJILAH ALLAH! 


Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (5)

KEBENARAN DI HADAPAN PENGUASA POLITIK

Sampailah kita ke pertanyaan, apakah Yesus berpolitik? Ya, dalam keseluruhan hidup-Nya, Ia berpolitik. Ajaran-Nya pun merupakan politik. Ia mengajarkan Kerajaan Allah hadir. Ia mengejawantahkan Kerajaan Allah. Ia mewartakan shalom. Ia sendiri adalah shalom itu. Ia tengah berkontradiksi dengan para penguasa, tutur kata dan tindakan simbolis-Nya membuat para penguasa kalang kabut. Bayangkan reaksi para penguasa ketika mendengar berita yang dikatakan oleh Yesus dari Nazaret ini!

Politik apakah yang Tuhan Yesus jalankan? Politik yang bertolak belakang dengan Kaisar, sebagai kuasa absolutis. Ingatkah Anda, mengapa Pilatus bertanya, “Apa itu kebenaran?” Sebab baginya, Kaisar adalah kebenaran yang absolut. Worldview Pilatus sebagai warga Roma adalah bahwa hanya Kaisarlah yang boleh mengatakan kebenaran.  

Ingatkah Anda ketika Yesus berkata kepada khalayak pendengar, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”? Hal ini bukan secara simplistis berarti boleh-boleh saja membayar pajak sebagai rasa hormat kepada pemerintah. Pada zaman Yesus, pemberontakan melawan pajak bukan hal yang aneh dan unik. Sejak Yesus masih kanak-kanak, Ia pasti telah mengetahui begitu banyaknya pemberontakan, dan di kemudian hari para pelakunya dibabat habis oleh kebrutalan orang-orang Roma! Tetapi hal yang paling mendasar bagi orang-orang pada zaman itu adalah, bila orang berkata, “Ya, bayarlah pajak kepada Roma!” maka di balik perkataan itu tersirat pemikiran, “Aku tidak serius menanggapi kedatangan Kerajaan Allah!”

Tidakkah Anda mencermati, Yesus meminta orang yang mencobai-Nya mengeluarkan koin mata uang yang dipakai untuk membayar pajak? Kabarnya mereka membenci kaisar, tetapi toh kenyataannya mereka menyimpan gambar kaisar yang tertera di dalam koin tersebut, dengan inskripsi (tulisan) yang memuat gelar pemujaan yang memberhalakan kaisar. Maka apa yang hendak dikatakan oleh Yesus adalah, “Lebih baik engkau kembalikan koinnya kaisar kepada kaisar, dan persembahkanlah kepada Allah kembali koinnya Allah!” Jadi Yesus hendak mengatakan, pajak harus dibayarkan, tetapi dengan kebencian kepada kuasa kaisar dan bukan dengan rasa hormat kepadanya; dan di balik itu ada keyakinan bahwa rezim Kaisar merupakan pemberhalaan omong kosong di hadapan Allah, dan pada suatu hari kelak, Allah sendiri akan menjungkirbalikkanya.

Politik Yesus adalah politik tanpa kompromi. Perkataan Yesus harus kita sadari implikasinya, bahwa Allah itu berkuasa atas segenap segi kehidupan, termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan ambiguitas kehidupan, salah satunya membayar pajak kepada kaisar. Ya benar, Yesus berkata bahwa orang harus membayar pajak kepada orang-orang kafir, seperti halnya orang Yahudi yang berdoa kepada Allah untuk kesejahteraan kota di mana mereka dibuang oleh Allah; tetapi melampaui ambiguitas kehidupan itu, hendaklah setiap orang meyakini bahwa Allah hadir di dalamnya, memanggil umat-Nya untuk berdiri dan patuh kepada sesuatu yang jauh melampaui kuasa kafir yang absolut, yang sedang berjaya. Umat Allah yang sejati beroposisi secara diametris dari kuasa itu.

Mungkin Anda akan segera bertanya dalam hati, bagaimana dengan Roma 13:1, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya . . . .” Apalagi diterangkan lebih lanjut, bahwa siapa yang melawan pemerintah melawan ketetapan Allah. Apakah rasul mengajarkan kita untuk selalu sendika dhawuh kepada pemerintah? Marilah kita selidiki ayat ini dengan cermat. Kata yang dipakai untuk “takluk” adalah hupotassesthai. Kata ini berbeda arti dengan “menaati” atau “patuh” (biasanya dipakai kata peitharchein, peithesthai dan hupakouein. Dalam PB, kata hupotassesthai muncul 31 kali. Sesekali, kata ini menunjuk kepada kepatuhan (Rm. 8.7), tetapi dalam kasus umum, arti ini tidak popular.

Maka, apa artinya ketika kata ini dipakai di sini, dan orang Kristen harus takluk kepada pemerintah? Yaitu bahwa seseorang ditempatkan di bawah kekuasaan pemerintah itu oleh Allah. Maka, bukan berarti seseorang tidak boleh kritis, lalu berlaku taat membabi buta kepada setiap keputusan, kebijakan dan politik pemerintah. Mengapa demikian? Sebab bagi orang Kristen, yang menentukan hupotassesthai dalam segala situasi bukanlah pemerintah dan kuasa sipil, tetapi Kristus.

Pertanyaannya ialah, mengapa orang Kristen mengambil posisi seperti ini? Worldview yang harus diingat oleh orang Kristen adalah bahwa kita telah mati dan bangkit bersama dengan Kristus, hidup oleh kuasa Roh, dan pengharapan kita adalah masa depan yang diperintah oleh Allah (Rm. 6-8). Oleh sebab itu, tidak ada satu kuasa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristyus, termasuk pemerintah dan kuasa-kuasa (Rm. 8.38-39). Setiap orang Kristen dibentuk oleh masa depan, bukan oleh masa lalu!

Keberadaan pemerintah, selalim apa pun, merupakan cerminan dari kehendak Allah untuk mengadakan keadilan dan tatanan, hingga tatanan yang baru yang dipimpin oleh Kristus Yesus merekah dengan sempurna. Betapa pun jahat dan lalimnya sebuah pemerintahan, dan mereka tidak mengenal Allah dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan menurut ukuran sendiri, namun tanpa pemerintah, orang akan bertindak sesuka hati, seenak hasratnya sendiri, dan orang yang lemah dan tak berdaya akan bertambah sengsara. Allah tidak menghendaki hal ini.  

Namun para rasul sendiri menyadari bahwa bila pemerintah melawan Allah, maka mereka berkata, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis. 5.29). Prinsip ini mengajar kita, sekalipun orang Kristen menolak untuk patuh, mereka tetap takluk di bawah kuasa pemerintah. Mereka tidak melakukan pemberontakan. Mereka tidak mengangkat senjata untuk menjungkirbalikkan kuasa pemerintahan. Tetapi bilamana pemerintah memutuskan hal-hal yang bertolak belakang dengan kehendak Allah, mereka pasti menolak, dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut.

Jadi, Roma 13 bukan merupakan carte blanche yang membenarkan para penguasa untuk melakukan apa pun yang mereka sukai. Mereka bukan ditempatkan di atas angin. Keberadaan mereka berada di bawah kuasa Kristus, sebab “Injil” Kristus Yesus melampaui “injil” para kaisar; dan setiap pemerintah bertanggung jawab kepada Sang Penguasa yang berada di atasnya. Bacalah teks ini baik-baik sekali lagi, dan seluruh Roma, maka Anda akan tahu bagaimana kita harus bertindak dalam percaturan politik!

Demikian pun bila kita perhatikan 1 Petrus 2.13, “Tundukklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi.” Di 2.17 ada empat perintah: hormati semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah dan hormatilah raja! Dapatkah kita simpulkan bahwa kita harus selalu menghormati raja karena raja selalu benar? Camkan selalu perkataan rasul di 2.9, bahwa orang Kristen adalah kerajaan para imam, artinya imam-imam yang melayani Sang Raja. Mereka patuh kepada Sang Raja, bukan kepada yang lain. Namun konteks selanjutnya (1.18-25) bagaimana orang Kristen harus bertindak bukan pada masa yang nyaman, aman tenteram, damai dan adil, tetapi pada waktu ketidakadilan itu muncul dan merajalela. Kepatuhan itu dinampakkan oleh orang Kristen, hanya kepada Kristus sehingga mereka pun rela menderita, bukan kepada pemerintah. Say No! to caesar, and Yes! to Christ.

Sunday, February 10, 2008

Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (4)

AGENDA DALAM MANIFESTO NAZARET

Bagi Yesus dari Nazaret, credenda menjadi agenda! Visi tak mungkin berjalan tanpa misi, tetapi misi pun harus dipertajam dengan strategi! Berbeda dengan orang-orang sezaman-Nya, Yesus tidak memilih mengangkat senjata—seperti kaum Zelot. Yesus juga tidak menarik diri dari kehidupan sehari-hari, menyepi, talak brata dengan laku asketis—seperti kaum Esseni di Qumran.


Yesus memiliki agenda untuk dikerjakan. Sebagai seseorang yang diurapi—indikasi-Nya Yesus tahu panggilan-Nya sebagai seorang nabi, sama seperti Elia dan Elisa—Yesus digerakkan oleh berita PL. Berita Tahun Yobel menjadi bagian yang penting dalam karya-karya-Nya.


Di sepanjang Injil Lukas, Yesus tidak segan-segan merangkul “orang-orang berdosa,” yang dicampakkan oleh masyarakat, yakni mereka yang tidak lagi dianggap manusia oleh manusia. Yesus menyembuhkan orang sakit, menjamah orang yang cacat, dekat dengan kaum-kaum terbuang (pemungut cukai, wanita tuna susila dan pengemis). Yesus datang, mengangkat mereka, dan memanusiakan manusia. Meminjam dictum ordo Yesuit, agenda Yesus adalah Dei gloriam, vivens homo, “memuliakan Allah, mengangkat manusia.” Sangatlah keliru bila kita hanya memahami aspek kesembuhan itu sebagai mukjizat Yesus yang unik. Kesembuhan yang diterima oleh orang-orang yang cacat dan najis pada hakikatnya bertujuan untuk mengangkat mereka agar menjadi sama seperti para tetangga mereka. Seseorang yang terikat oleh perbudakan legalisme yang merendahkan martabat manusia, kini telah dilepaskan. Mereka yang dahulu bukan manusia, kini menjadi manusia.


Dengan singkat, kita dapat katakan, credenda yang menjadi agenda di tangan Yesus adalah: Ia bertindak secara simbolis bahwa Allah telah hadir di tengah-tengah umat-Nya! Orang-orang Yahudi memiliki simbol ketika mereka berbicara mengenai Allah, Sang Pencipta langit dan bumi, Allah yang hidup, yang hadir di tengah-tengah umat-Nya untuk menolong dan menyelamatkan mereka.


Mereka percaya bahwa Hikmat Allah tinggal di antara umat-Nya, menunjukkan kepada mereka jalan yang sejati. Yesus bertindak dan mengajar seolah-olah Ia adalah Sang Hikmat, Sophia, atau Hokma, itu.


Mereka percaya bahwa Allah yang hidup itu hadir melalui Taurat yang Ia telah berikan. Ia mengumpulkan kaum pilihan-Nya dan mengajar seolah-olah Ia sendiri adalah Taurat yang sejati itu, bahkan Sang Pemberi Hukum Taurat sendiri, dan pokok yang menyatukan umat Allah.


Mereka percaya bahwa Allah yang hidup tinggal, secara khusus, di Bait Suci Yerusalem. Yesus berindak dan berbicara seolah-olah Ia dipanggil untuk melakukan dan menjadi apa yang menjadi fungsi Bait Suci pada masa lampau.


Berita yang dibawa oleh Yesus tak lain dan tak bukan berbicara mengenai diri-Nya sendiri. Ia adalah pokok pemberitaan dan pengajaran yang keluar dari mulut-Nya. Ia tidak sekadar mengajarkan serentetan aturan moral yang baru. Ia bukan tokoh penggerak massa dengan segudang ide pembaruan utopis. Ia menggemakan apa yang menjadi keyakinan orang-orang sezaman-Nya, tentang Allah yang hadir di tengah umat-Nya, tentang tatanan baru di bawah Allah yang disebut sebagai Kerajaan Allah! Di dalam diri seorang muda sederhana asal Nazaret yang memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang yang sakit, mengonfrontasi para penguasa, menderita di bawah tindihan sengsara dunia, dan bangkit kembali mengalahkan kematian, maka kita sebagai pengikut-Nya dengan berani mengatakan, “Itulah artinya menjadi Allah!”


Jika berita Yesus, serta tindakan-Nya, menyatakan bahwa Allah Israel telah hadir kembali di antara umat-Nya Israel, bahwa Israel telah dipulihkan, bukan untuk menjadi sebuah bangsa yang adijaya, tetapi umat yang patuh kepada Allah-Nya, maka hal ini pun menyiratkan satu kebenaran fondasional bahwa Allah itu Raja bagi kaum pilihan-Nya, dan konsekuensi lebih luas lagi yakni bahwa Allah pun menjadi Raja atas seluruh ciptaan. Jika Allah menjadi raja atas seisi dunia, maka kerajaan-kerajaan dunia yang absolutis pun secara otomatis gulung tikar. Inilah politik yang menjadi rahasia keempat Injil. Bahkan kita pun dapat mengatakan, inilah politik yang digaungkan di PB, dengan klimaksnya, “Kerajaan dunia ini telah menjadi Kerajaan Allah kita dan Kristus-Nya” (lih. Why. 11.15).


Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Yakni melalui Yesus dari Nazaret yang disalibkan dan yang dibangkitkan. Apabila Anda memiliki cukup waktu untuk menyelidiki Lukas, maka Injil ini dipenuhi dengan berita theologia crucis, teologi salib, bahwa pada setiap titik Yesus diidentikkan dengan orang-orang berdosa, sehingga dalam rancang bangun mega plan Allah yang dinyatakan secara penuh dengan kebangkitan Kristus, Ia dapat meretas jalan bagi Israel untuk menjadi satu keluarga besar yang mendunia! Ia yang dibangkitkan itu naik ke surga, bertakhta di sebelah kanan Allah, dan Ia akan kembali hadir untuk menyempurnakan pemerintahan Allah ini, dengan jalan memusnahkan semua musuh, termasuk dosa dan kematian!


Kerajaan Allah, dalam pikiran Yesus, sedang datang, dan orang-orang harus berdoa memohon kedataang kerajaan itu, di atas bumi seperti di dalam surga. Dan Ia sudah ada di atas bumi, dan membuatnya terjadi di depan mata tiap-tiap manusia. Ketika Herodes mendengarnya, ia kebakaran jenggot; sebab ia merasa Raja orang Yahudi. Tatkala imam besar mendengarnya, mereka tahu adanya kuasa tandingan yang akan mengoyakkan basis pertahanan politik mereka, Bait Suci. Tak dipungkiri, bila Kaisar pun mendengarnya, Ia akan bereaksi sama. Apa yang tidak pernah dapat dipahami oleh para penguasa, bahkan orang-orang terdekat dari Yesus juga sulit untuk memahami maksud Yesus, yaitu tantangan sejenis apa yang Yesus coba lakonkan: kerajaan yang seperti apa yang Ia sedang bangun, dan raja yang bagaimana yang Ia pikirkan mengejawantah di dalam diri-Nya.


Tantangan yang paling puncak, yang diterjang oleh Yesus adalah dengan menanggung kematian di atas salib. Salib adalah hukuman sah dari Kaisar kepada raja-raja tandingan yang memberontak. Namun di mata Allah, kematian Yesus di kayu salib mempunyai nilai yang berbeda. Kalvari dan Paskah adalah dua sisi mata uang. Dua tradisi Perjanjian Lama, apokaliptik dan hikmat, tertangkup menjadi satu: Dunia yang baru telah terlahir—inilah klaim kerajaan-kerajaan dunia—oleh sebab senjata utamanya, yakni kematian itu sendiri, telah dilucuti dan dihancurleburkan. Tidakkah kita menangkap ada aspek politis di balik kematian dan kebangkitan Yesus? Memang, aspek spiritual dan etis pun ada, tetapi injil yang sejati berbicara tentang hidup yang utuh.


Kematian Yesus adalah kematian politis. Kebangkitan Yesus pun sama. Politik yang bertentangan dengan politik dunia! Politik yang menaklukkan politik dunia dengan senjata yang biasa dipakai untuk mengalahkah pihak lawan. Yesus melancarkan politik-Nya dengan masuk ke jantung yang terdalam senjata musuh! Dengan masuk ke “sarang lawan,” Yesus tahu betul apa artinya kematian! Dengan jalan itulah, ia mampu menaklukkan maut dan sengatnya. Dan melalui kebangkitan-Nya, ciptaan baru merekah, sebuah tata ciptaan yang dipimpin dan diperintah oleh Allah!


Apa yang dapat kita simpulkan dari agenda Yesus? Pikirkan kata-kata M. Macchovec, seorang Marxis tentang Yesus,


Jesus’ ‘doctrine’ . . . set the world on fire not because of the obvious superiority of his theoretical programme, but rather because he himself was at one with the programme, because he himself was the attraction. They saw in him a man who already belonged to this coming Kingdom of God; they saw what it meant to be ‘full of grace,’ what it meant to be not only a preacher but himself the product of his preaching, a child of the future age to the marrow of his bones.

Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (3)

CREDENDA DALAM MANIFESTO NAZARET

Namun, kapankah datangnya Kerajaan Shalom itu? Tujuh ratus tahun berlalu sudah. Yang ada hanya kesunyian. Bila kini Anda mengaminkan kata-kata cah ndesa dari Nazaret itu, yakinkah Anda bahwa dia adalah Mesias yang dijanjikan itu? Siapa Yesus? Musykil bagi-Nya untuk berjuang. Mustahil untuknya dapat mengumpulkan massa dan mempersenjatai mereka dengan peralatan perang yang lengkap.


Bagaimana mungkin Yesus dapat membebaskan para pengemis dan gelandangan? Tekanan pajak dari Roma sedemikian tinggi, belum lagi para “penyamun terselubung” tak kurang jahatnya! Para pemungut cukai! Bahkan, para klerus dan pemuka agama pun telah menyalahgunakan jabatannya untuk membuncitkan perut. Berlindung di balik jubah putih bersih dan hormat takzim khalayak, kesalehan para imam merupakan kamuflase kebusukan hati yang pernah dibongkar oleh Yesus seperti “kuburan berlabur putih”! Bait Suci pada waktu itu merupakan pusat sirkulasi uang yang paling tinggi, jauh di atas sirkulasi di Jakarta Stock Exchange! Ingatlah bahwa atas nama agama, keuntungan yang diraup bisa tak terbayangkan jumlahnya! Para imam adalah kaum konglomerat. Sekali lagi pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus dapat mengentaskan masalah ekonomi yang sepelik ini? Bagaimana mungkin Yesus dapat memproklamirkan kemerdekaan, pembebasan dan berita Tahun Rahmat Tuhan, atau “Tahun Yobel Agung” tersebut?


Yesus menjadikan kerygma itu sebagai credenda. Allah yang diberitakan dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang benar. Ia setia dengan perjanjian-Nya. Ia mendengar doa orang-orang yang dikasihi-Nya, yang siang malam dinaikkan dengan hati yang tulus dan murni di hadapan-Nya, supaya mereka dibebaskan dari perbudakan. Ia adalah Allah para janda dan yatim. Ia adalah Allah kaum yang terbuang, yang tersingkirkan dan menjadi sampah masyarakat. Ia adalah Allah yang memiliki preferential options for the poor. Isi hati-Nya tertuju kepada jeritan minta tolong. Kerahiman-Nya memeluk mereka yang tinggal dalam kegelapan dan menghangatkan mereka yang kesepian dan kedinginan. Bela rasa-Nya tinggal di tengah-tengah derita dan nestapa.


Lukas memakai kata Yunani aphesis untuk menerjemahkan deror, yang artinya adalah “lepas secara sah dari ikatan dinas, perkawinan, kewajiban, utang ataupun hukuman.” Menurut para ahli bahasa, kata ini dipakai untuk pengertian sekular, dan bukan dalam ranah agama atau religiositas, apalagi doktrinal. Dengan memberitakan aphesis ini, Yesus menyatakan bahwa utang umat sudah lunas dibayar. Mereka telah menanggung derita sebagai konsekuensi dosa, dan sekaranglah waktu untuk mereka menikmati pembebasan itu!


Allah yang hadir, yang diberitakan oleh Yesus adalah Allah yang merangkul orang-orang berdosa. Inilah politik shalom yang menjadi credenda Yesus dari Nazaret. Politik Yesus bukan politik yang mengangkat granat dan besi, metalieur apalagi bom molotov. Yesus tidak menjilat para penguasa, bahkan cenderung kontra. Herodes disebut sebagai srigala! Politik Yesus tidak tampil gembar-gembor di atas pentas percaturan media untuk mempromosikan “dagangan” manis yang sebentar akan terlupakan bila kampanye dan pemilu berakhir. Politik Yesus tidak pernah merasakan nyaman dengan kemapanan, dan menghalalkan segala cara untuk mengenyangkan perut sendiri.


Dalam keyakinan Yesus berdasarkan teks Yesaya 61 ini, politik seharusnya anti-kemapanan! Bagi Yesus, rahmat dan kesetiaan Allah yang dekat dengan kaum marginal adalah pokok politik-Nya. Shalom yang ada dalam pikiran Yesus adalah shalom yang terjungkir balik, yang disebut oleh Don Kraybill the upside-down kingdom, “Kerajaan yang Sungsang.”

Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (2)

KERYGMA DALAM MANIFESTO NAZARET

Injil Lukas memberitakan kemesiasan Yesus mulai nampak di muka publik ketika Yesus mulai mengajar di sebuah sinagoga di Nazaret. Seorang chazzan menyerahkan lectionary untuk hari itu, dan teks yang dibaca adalah Yesaya 61. Bukan kebetulan bila yang dibaca adalah Kitab Nabi Yesaya bagian ketiga. Cobalah berpikir andaikata Anda berada di sinagoga itu! Anda melihat Yesus mengajar. Anda mendengarkan Yesus membacakan bagian ini. Saya yakin, hati Anda akan dikobarkan dengan semangat membara! Ketika telinga Anda menangkap suara Yesus, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya,” saya sangat yakin bahwa Anda pun secara spontan akan mengatakan, “Ya! Amin! Sekaranglah waktunya!” (Bdk. Luk. 4.22.)


Mengapa demikian? Orang kala itu mengharapkan datangnya pembebasan. Ketika mereka menghitung-hitung, ternyata jatuhnya masa “tujuh puluh kali tujuh masa” seperti yang dikatakan oleh nabi Daniel (Dan. 9.20-27) adalah pada zaman pada waktu Yesus ada. Maka tak heran, sejak pertengahan abad II S.M hingga pertengahan abad II S.M, tanah Palestina adalah wilayah yang paling bergolak. Mereka yakin, setelah masa 490 tahun yang diwarnai dengan ketertekanan dan penindasan bangsa asing terhadap Israel, merekahlah fajar era baru, yang dipimpin oleh Mesias, utusan dari Allah. Dan masa itu jatuh di sekitar zaman Yesus! Zaman itu adalah “Tahun Yobel Agung!”


Dapatkah Anda membayangkan ekspresi orang pada waktu itu ketika Yesus memperkatakan kerygma tentang Pribadi yang Diurapi Allah untuk: (1) menyampaikan kabar baik” kepada orang-orang sengsara, (2) memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan (3) memberitakan tahun rahmat Tuhan. Kabar baik, pembebasan, serta tahun rahmat Tuhan.


Harap Anda tidak cepat-cepat merohanikan ketiga istilah tersebut! Bagi orang Yahudi, “kabar baik” berarti munculnya tunas Daud, sang Mesias yang dijanjikan Allah, yang akan menegakkan pemerintahan Allah di antara kaum pilihan-Nya. Pembebasan (Ibr. deror) menggemakan berita Imamat 25 mengenai Yobel! Pembebasan yang dimaksudkan adalah kepulangan bersama-sama, yang disertai pembebasan dari ketimpangan ekonomis akibat penindasan. Pusaka tanah milik para leluhur yang telah dirampas oleh para penjajah dikembalikan. Keluarga yang tercerai-berai dikumpulkan kembali. Anggota keluarga yang menjadi budak di tanah asing dipulangkan ke tengah-tengah keluarga. Bagi mereka, adalah lebih baik tinggal bersama keluarga daripada tercerai berai. Penyatuan kembali keluarga merupakan tanda anugerah Yahweh. Ini semua adalah rahmat dari Yahweh, cinta kasih Allah perjanjian. Inilah shalom!


Tujuh ratus sebelum Yesus Kristus lahir, nabi Yesaya telah menyerukan tahun pembebasan, tahun rahmat Tuhan, tahun Yobel! Berita ini terus menggema sebagai sebuah kerygma eskatologis. Allah akan kembali ke tengah-tengah umat-Nya. Allah akan menebus kembali dan memulihkan kehidupan umat-Nya, mengumpulkan tulang-tulang Israel yang terserak, menyatukan keluarga yang tercerai-berai, membangkitkan kembali laskar-laskar-Nya dan mengutus Mesias sebagai wakil-Nya.


Dapatkah Anda menangkap visi ini? Dalam PL tidak pernah digemakan eskatologi ke-kiamat-an dunia. Eskatologi adalah kehadiran Allah kembali di tengah umat-Nya, dan Allah akan tinggal bersama-sama dengan umat. Jelas sekali, berita ini revolusioner! Betapa tidak! Bila Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya, maka tiada kuasa lain, selain Allah, yang menindas umat, ataupun menempatkan diri sebagai superior. Kerygma PL tidak kurang bernada politis! Politik Kerajaan Allah, yaitu politik yang mewartakan tatanan baru yang dipimpin oleh Allah, suatu tatanan yang dilambari oleh shalom.

Kerygma, Credenda, Agenda Yesus (1)

MENILAI ZAMAN

Marilah pertama-tama kita sadari bahwa politik tidak mungkin terpisah dari ekonomi. Kepentingan politik sering bertumpang tindih dengan kepentingan ekonomi. Di Amerika Serikat, dua partai besar Republic dan Democrat saling berebut untuk dapat menduduki kursi tertinggi di pemerintahan, dengan mengajukan calon terandalnya untuk menjadi presiden. Kebanyakan kaum Injili dan Kristen fundamentalis masuk dalam kubu Republic. Namun dengan musibah 9/11 dan terorisme yang melanda Amerika, pendulum itu berayun ke sisi lain, dan banyak orang mulai mengangkat suara menyatakan mosi tidak percaya pada pemerintahan George W. Bush. Siapa sangka, Bush sebagai juragan minyak ternyata telah memiliki sebuah sindikat dan kerja sama dengan jaringan Al Qaeda dan khususnya keluarga Osama bin Laden? Sang koboi dari Texas telah lama menjalin dengan sang musafir dari jazirah Arab untuk urusan minyak. Pada waktu 9/11 terjadi, semua penerbangan segera dihentikan; namun anehnya, satu-satunya pesawat yang boleh melakukan penerbangan adalah yang mengangkut keluarga Osama! Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Bagaimana di negara kita? Tergulingnya pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru pun tidak mungkin diceraikan dari kepentingan ekonomi. Yang bermain di balik layar adalah sebuah badan intelijen negara kapitalis yang sangat ternama! Dengan pola kerja yang licin dan halus, nabok nyilih tangan, maka akhirnya penguasa Orde Lama dapat tercukil dan digantikan dengan penguasa Orde Baru! Dengan bergulirnya pemerintahan, maka kepercayaan yang baru diberikan oleh negara-negara kapitalis Barat. Di masa Orde Baru ini, Indonesia nampak makmur. Indonesia memasuki era pembangunan. Negeri kita terkenal dengan sebutan negara yang dipercaya—untung berutang! Prestasi yang luar biasa! Predikat yang membanggakan dari luar negeri!, demikian orang berpikir dan itulah yang masuk dalam buku teks sekolah di era 1970-1980-an! Dari sejak IGGI, kemudian CGI, lalu IMF, negeri kita terus mendapatkan dana suntikan dari luar negeri.


Hal selanjutnya, politik juga tidak terpisah dari agama. Bahkan ada yang mengatakan, agama adalah kendaraan politik yang paling jitu! Edward Gibbon, sejarawan Abad Pencerahan yang menulis The Decline and Fall of the Roman Empire, menuliskan sindiran, bahwa agama itu sama salahnya di mata para filsuf, sama benarnya bagi khalayak umat, dan menguntungkan bagi pemerintah. Itulah sebabnya di Indonesia, pergolakan massa di suatu daerah dapat dengan mudah disulut bila menyangkut agama. Partai yang mengusung agama pun tetap memiliki rating atas di negeri kita sejak berdirinya negeri ini. (Ingat, partai Masyumi yang mendapat peringkat 2 dalam Pemilu 1955 setelah PNI dan sebelum PKI!) Demikian pun, setiap usaha pengumpulan dana yang menyertakan panji agama, akan segera mendapatkan simpati besar dari umat, dan telah menjadi rahasia umum, departemen negara yang paling kaya (dan paling korup) adalah Departemen Agama!


Bagaimana orang Kristen seharusnya bersikap? Kita perlu menilai zaman, serta melakukan otokritik terhadap kekristenan! Kita berada dalam ketegangan: kaum Injili yang kebanyakan konservatif dan cenderung kapitalistik, serta kaum liberasionis yang cenderung sosialis-Marxis. Perlu ditandaskan, tidak dapat kita generalisasi (Jawa: gebyah uyah!) sebagai dua kutub yang an sich mutlak demikian. Ada kaum Injili yang dipengaruhi oleh Marxisme, ada pula kaum liberasionis yang masih berbau-bau kapitalistik. Akan tetapi, sikap kita sebagai pengikut Yesus seharusnya jelas! Saya setuju perkataan Craig Blomberg, guru besar PB di Denver Seminary, bahwa keduanya tak perlu menjadi kutub yang berseberangan,


Evangelical can supply a crucial orthodoxy; liberationists a much needed orthopraxy. Together . . . they could transform the world in the name of Jesus, bringing to individuals, people, institutions, and cultures the faith which liberates, heals, eradicates poverty, and brings forgiveness of sins.


Dengan perkataan lain, politik yang sejati dapat dilaksanakan “dalam nama Yesus.” Nama Yesus, dari hasil penyelidikan saya, bukan semata-mata istilah yang dapat diklaim eksklusivitasnya sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Jangan salah paham, saya percaya itu! Tetapi bila kita beranggapan bahwa keempat Injil berbicara mengenai Yesus datang, disalib dan dibangkitkan agar setiap kita masuk surga, yaitu negeri di awan, kita keliru memahami Injil. Silakan baca baik-baik keempat Injil sekali lagi, atau berulang-ulang kembali. Secara sederhana alur pikir keempat saksi Kristus ini adalah: Kristus datang, maka ciptaan baru hadir (disahkan oleh kebangkitan Kristus pada hari pertama), dan kita mempunyai tugas untuk dilakukan.


Injil berbicara bagaimana kita hidup sebagai ciptaan baru, kini dan di sini, dan seperti apa kelak ketika ciptaan baru itu diwujudnyatakan di atas bumi! Injil adalah Injil Kristus yang membumi. Injil berbicara mengenai bagaimana kita hidup di dalam Kristus, oleh kuasa Roh Kudus, sebagai ciptaan baru. Injil berarti suatu undangan bagi kita untuk menjadi pelopor-pelopor pembaruan kosmos. Injil berbicara mengenai keberanian kita menghadapi penguasa-penguasa dan ilah-ilah zaman, menjungkirbalikkan tatanan yang lama, untuk digantikan dengan yang baru. Berarti Injil berbicara mengenai politik yang baru! Itulah politik Kerajaan Allah, dengan Yesus dari Nazaret sebagai Mesias!


Bagaimana Yesus memandang politik? Apakah Yesus berpolitik? Kita merenungkan satu bagian yang dikenal sebagai teks “politik” bagi Yesus. Seorang pakar PL Inggris, Christopher Wright menyebut bagian ini “Manifesto Nazaret.” Istilah “manifesto” kerap dipakai oleh kalangan marxis-komunis untuk mendeklarasikan ide-ide perjuangan mereka dengan terbuka. Oleh para ahli PB, termasuk yang Injili, bagian ini pun diyakini proklamasi ide perjuangan gerakan Yesus.


Ada tiga pokok kajian dari bagian ini, yaitu kerygma, credenda dan agenda Yesus dari Nazaret, kemudian kita akan menarik implikasi untuk hidup kita kini dan di sini. Kerygma berarti tindakan pewartaan dan inti dari pewartaan itu. Credenda berarti apa yang diyakini. Agenda berarti tugas dan vokasi (panggilan) hidup.

Sunday, April 29, 2007

Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus


Kompas, Kamis 5 April 2007 : Bentara hal. 43

Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus

IOANES RAKHMAT

Temuan makam keluarga Yesus di Talpiot menuntut sebuah kacamata baru memahami teks injil sehubungan dengan fakta historis tentang Yesus.

Makam keluarga Yesus di Talpiot, sebelah selatan Kota Lama Jerusalem, digali dalam kurun 1-11 April 1980 oleh arkeolog Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson di bawah pengawasan Otoritas Kepurbakalaan Israel (OKI) . Di dalamnya ditemukan 10 osuarium (peti tulang terbuat dari batu gamping) berusia tua dari kurun waktu pra-tahun 70 Masehi, akhir Perang Yahudi I melawan Roma. Sejak penggalian itu tidak ada penyelidikan lebih lanjut atas makam ini. Di dalam sebuah film dokumenter BBC/CTVC yang berjudul The Body in Question dan ditayangkan di Inggris pada Minggu Paskah 1996, muncul laporan sangat singkat tentang makam ini. Karena terlalu singkat, laporan ini berlalu begitu saja.

James D Tabor melalui bukunya yang terbit 2006, The Jesus Dynasty, mengangkat kembali signifikansi makam Talpiot bagi studi tentang Yesus. Discovery Channel pada 4 Maret 2007 di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Israel, dan Eropa menayangkan sebuah film dokumenter berjudul The Lost Tomb of Jesus dengan produser pelaksana James Cameron. Tesis yang diajukan film ini: makam Talpiot adalah betul makam keluarga Yesus dari Nazareth. Dalam waktu yang hampir bersamaan (Februari 2007) Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino menerbitkan buku The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence That Could Change History. Tak pelak lagi kontroversi sedunia atas temuan makam Talpiot pun bermunculan. Reaksi sangat keras datang terutama dari kalangan Kristen konservatif evangelis. Sebaliknya, sejumlah pakar lain, seperti John Dominic Crossan dan James Charlesworth, mendukung penuh usaha-usaha penelitian terhadap makam Talpiot. Crossan menandaskan temuan makam Talpiot itu adalah "paku terakhir yang ditancapkan pada peti mati literalisme biblis".

Perkembangan sekarang

Pada penggalian 1980 ditemukan 10 osuarium dari makam Talpiot. Namun, sekarang ini, OKI hanya memiliki sembilan osuarium dari makam Talpiot, satu osuarium dinyatakan telah hilang. Dari sembilan osuarium ini, tiga osuarium di antaranya tidak memiliki inskripsi, sedangkan enam lainnya memuat inskripsi: (1) "Yesus anak Yusuf" (bahasa Aram), (2) "Maria" (Aram), (3) "Mariamene e Mara" ("Maria sang Master"=Maria Magdalena) (Yunani), (4) "Yoses" (Aram), (5) "Matius" (Aram), (6) "Yudas anak Yesus" (Aram). Keempat nama yang pertama sudah dikenal sebagai nama-nama yang muncul dalam Alkitab Perjanjian Baru, baik sebagai anggota-anggota keluarga Yesus (Markus 6:3) maupun sebagai seorang yang dekat dengannya (Maria Magdalena). Nama "Matius" muncul dalam "silsilah Yesus" (Matius 1 dan Lukas 3) dan juga dalam Markus 2:14 sebagai "anak dari Alfeus (Klofas)". Alfeus atau Klofas, menurut James Tabor, adalah saudara dari Yusuf, ayah legal Yesus. Jadi, "Matius" termasuk ke dalam kaum keluarga Yesus. Hanya nama "Yudas anak Yesus" yang tidak muncul dalam Perjanjian Baru.

Pada penggalian 1980 tulang-belulang dari dalam semua osuarium sudah diserahkan kepada otoritas Yahudi Ortodoks setempat untuk dikuburkan kembali. Pemeriksaan DNA tetap bisa dilakukan dengan memakai sisa-sisa endapan organik dari human residue yang menempel pada permukaan-permukaan dinding sebelah dalam atau mengendap di dasar osuarium. Pada tahun 2005 Dr Carney Matheson dan timnya dari Laboratorium Paleo-DNA Universitas Lakehead di Ontario telah memeriksa mitokondria DNA terhadap human residue dari "Yesus anak Yusuf" dan "Maria Magdalena". Dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan persaudaraan maternal antara "Yesus" dan "Maria Magdalena". Artinya, Maria Magdalena dari makam Talpiot bukan ibu dari Yesus dan juga bukan saudara kandung perempuannya. Bisa jadi, karena ditemukan dalam satu makam keluarga, Maria Magdalena dalam makam Talpiot ini adalah orang luar yang menjadi istri sah Yesus, dan bisa jadi juga "Yudas anak Yesus" adalah anak Maria Magdalena juga.

Pada 21 Oktober 2002 di Washington DC, Hershel Shanks, editor kondang dari Biblical Archaelogy Review, dan Discovery Channel mengumumkan telah ditemukan sebuah osuarium yang berinskripsi Aramaik "Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus". Osuarium Yakobus ini, yang dimiliki Oded Golan (pedagang barang antik kelahiran Tel Aviv), segera terkenal ke seluruh dunia. Osuarium ini, ketika sudah kembali ke Israel sehabis dipamerkan antara lain di Royal Ontario Museum disita oleh OKI, dan Oded Golan ditangkap dengan tuduhan telah memalsukan inskripsi "saudara dari Yesus" pada osuarium itu berdasarkan hasil tes isotop yang telah dilakuan Prof Yuval Goren, pakar geologi dari Universitas Tel Aviv. Namun, pada Januari 2007, di ruang sidang pengadilan Israel atas Oded Golan, Prof Goren menyatakan bahwa pada sedikitnya dua huruf dari nama "Yeshua" (Yesus) pada inskripsi Aramaik di osuarium Yakobus ini terdapat lapisan mineral patina yang asli dan berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan frase "saudara dari Yesus" pada osuarium Yakobus itu harus dinyatakan asli.

Sementara ini, Tabor dan Jacobovici berpendapat ada kemungkinan bahwa satu osuarium yang telah hilang dari makam Talpiot itu adalah osuarium Yakobus. Shimon Gibson sendiri berpendapat ada kemungkinan bahwa osuarium Yakobus adalah osuarium ke-11 dari makam Talpiot yang telah dicuri dari makam ini sebelum penggalian dilakukan pada 1980. Ketika diukur kembali, didapati ukuran osuarium Yakobus ini sama dengan ukuran osuarium yang telah hilang itu. Penelitian lapisan mineral patina pada osuarium Yakobus yang telah dilakukan, yang dibandingkan dengan patina-patina dari osuarium-osuarium lain dari makam Talpiot dan dari makam-makam lain di sekitarnya yang dipilih secara acak, menunjukkan kesamaan "sidik jari" mineral patina dari osuarium Yakobus dengan "sidik jari" mineral patina dari osuarium-osuarium lainnya dari makam Talpiot. Ini memastikan bahwa osuarium Yakobus berasal dari makam Talpiot. Sisa-sisa tulang-belulang Yakobus masih tersedia. Jika pengujian DNA diizinkan oleh OKI untuk dilakukan pada human residue Yakobus (hingga kini OKI masih belum memberi izin), dan jika terbukti bahwa DNA Yakobus match dengan DNA Yesus (yang sudah diketahui), maka akan tidak terbantahkan lagi bahwa makam keluarga di Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth, Yesus yang punya saudara satu ayah, yang bernama Yakobus, sebagaimana dicatat baik oleh tradisi Kristen (Galatia 1:19; Markus 6:3) maupun oleh Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi.

Beberapa sanggahan

Sejak ekskavasi 1980, nama-nama pada osuarium-osuarium makam Talpiot dipandang oleh sejumlah arkeolog Israel sebagai nama-nama yang umum dipakai di Jerusalem pra-tahun 70. Sifatnya sebagai nama-nama umum inilah yang telah lama dijadikan alasan oleh banyak pakar Kristen menyanggah pendapat bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth. Namun, Jacobovici, Pellegrino, dan James D. Tabor berpendapat bahwa terkumpulnya nama-nama anggota keluarga Yesus dalam makam Talpiot sebagai satu cluster adalah suatu kejadian yang unik, yang belum pernah ditemukan sebelumnya di dalam suatu situs galian arkeologis yang terlokasi dan terkontrol. Pandangan mereka ini didukung oleh kajian statistik yang memanfaatkan teori probabilitas dan yang juga memperhitungkan baik demografi kota Jerusalem pra-tahun 70 (berpenduduk antara 25.000 dan 75.000) maupun data nama-nama yang telah dicatat yang berasal dari semua makam yang telah ditemukan di kawasan-kawasan perbukitan kota Jerusalem. Menurut pakar statistik dari Universitas Toronto, Prof Andrey Feuerverger, kemunculan cluster atau kumpulan keempat nama saja yang berkaitan dengan Yesus ("Yesus anak Yusuf", "Maria", "Maria Magdalena", dan "Yoses") dalam satu makam, dalam konteks kota Jerusalem pada periode Bait Allah Kedua akhir, adalah suatu kejadian yang unik dengan peluang 1:600. Artinya, dari 600 kasus, hanya akan ada satu kemungkinan kasus seperti kasus makam Talpiot. Jika osuarium Yakobus dimasukkan ke dalam makam Talpiot, maka, menurut Feuerverger, peluangnya berubah menjadi 1:30.000. Artinya, dari 30.000 kasus, hanya akan ada satu peluang kasus yang seperti kasus makam Talpiot.

Sanggahan lainnya adalah tidak mungkin makam Talpiot makam keluarga Yesus sebab di dalam Perjanjian Baru tidak ada satu pun petunjuk yang menyatakan bahwa Yesus mempunyai anak. Ini adalah sebuah argumentum e silentio yang keliru. Perjanjian Baru tidak menyebut, sebagai contoh, nama-nama Philo, Rabbi Hillel, Flavius Yosefus, Hanina ben Dosa, Apollonius dari Tyana. Namun, semua orang ini adalah orang-orang yang nyata hidup dalam dunia ketika kekristenan baru lahir. Selain itu, harus juga dipertimbangkan adanya rujukan-rujukan kepada "murid yang dikasihi" dalam Injil Yohanes yang digambarkan "bersandar pada Yesus di sebelah kanan-Nya" pada waktu perjamuan malam (Yohanes 13:23); dan juga rujukan dalam Injil Markus kepada "seorang muda" yang berlari "dengan telanjang" ketika Yesus ditangkap (Markus 14:51-52)—apakah tidak mungkin, bahwa rujukan-rujukan tersamar ini sebetulnya mengacu kepada anak Yesus, berusia belasan tahun, yang identitas sebenarnya harus dirahasiakan mengingat Roma baru saja menumpas sebuah gerakan messianik dengan menyalibkan sang pemimpinnya, Yesus dari Nazareth, yang mengklaim diri "Raja orang Yahudi"?

Sanggahan berikutnya adalah bahwa karena keluarga Yesus dari Nazareth adalah keluarga miskin yang tinggal di Galilea, maka mustahil mereka bisa memiliki sebuah makam keluarga di kota Jerusalem; kalaupun keluarga Yesus mampu membeli sebuah makam keluarga, makam ini pastilah sederhana dan berlokasi di Nazareth, bukan di Jerusalem.

Dibandingkan dengan makam-makam lain di kawasan dekat Jerusalem, makam Talpiot itu bersahaja dan sempit, dengan ukuran 3 x 3 meter dan dengan tinggi kurang dari 2 meter. Makam semacam ini dapat disediakan oleh para pengikut perdana Yesus. Sepeninggal Yesus, mereka memusatkan pergerakan messianik mereka di Jerusalem dengan dipimpin oleh Yakobus (wafat tahun 62), saudara Yesus, yang semasa Yesus masih hidup telah menetap di Jerusalem. Di Betania, tidak jauh dari Jerusalem, berdiam para pengikut setia Yesus, seperti Maria, Marta, dan Lazarus yang dapat menyediakan sebuah makam keluarga.

Pada situs-situs galian arkeologis di sekitar Bukit Zaitun (dilakukan oleh arkeolog-arkeolog Mancini, Bagatti dan Milik, serta Sukenik dan Avigad) yang tidak jauh dari Kota Lama Jerusalem, khususnya pada situs suci Kristen Dominus Flevit ("Tuhan menangis"), telah ditemukan banyak osuarium yang berinskripsi nama-nama Yahudi-Kristen (Jack Finegan, Archaelogy of the New Testament, 359-374). Nama-nama ini adalah nama-nama para murid perdana Yesus yang tetap melanjutkan gerakan messianik yang dipusatkan di Jerusalem sebelum kota ini dihancurkan pada tahun 70 M oleh Roma.

Dalam Markus 6:29 dikatakan bahwa ketika murid-murid Yohanes Pembaptis mendengar sang guru mereka sudah dibunuh oleh Herodes Antipas, mereka segera datang mengambil mayatnya lalu meletakkannya dalam sebuah kubur. Hal yang serupa terjadi juga pada mayat Yesus. Yusuf orang Arimatea, seorang "yang telah menjadi murid Yesus juga" (Matius 27:57) memberikan sebuah makam miliknya sendiri "yang digali di dalam bukit batu" untuk penguburan sementara mayat Yesus (karena hari Sabat sebentar lagi tiba!) (Markus 15:42-47). Dari kubur ini kaum keluarga Yesus kemudian memindahkan mayat Yesus ke makam yang permanen yang disediakan para pengikut pergerakan messianik Yesus yang kini berpusat di Jerusalem. Telah dipindahkannya mayat Yesus ke kubur lain inilah yang menyebabkan kubur pertama itu kosong. Ketika waktunya telah tiba (satu tahun kemudian), tulang-belulang Yesus dimasukkan ke dalam osuarium.

Sanggahan lainnya bercorak apologetis teologis, bukan historis, datang dari kalangan Kristen evangelis. Bagi kalangan ini, di bumi ini tidak mungkin ada sisa-sisa jasad Yesus sebab Yesus sudah bangkit dengan raganya dan sudah naik ke surga juga dengan keseluruhan raganya (daging, tulang, organ-organ dalam, dan semua lainnya). Teologi mereka pakai untuk menghambat penyelidikan interdisipliner terhadap makam Talpiot dan osuarium-osuarium yang terdapat di dalamnya. Kalangan inilah, dengan literalisme biblis mereka, yang sama sekali tidak mau diperhatikan oleh para pakar peneliti makam Talpiot.

Penutup

Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah "tubuh rohani", bukan tubuh jasmani protoplasmik.

IOANES RAKHMAT Dosen Kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta

So, Anda mau menanggapi tulisan ini???